| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
ENVIRONMENTAL BULLETIN
29 Oktober 2009 PENGARUH BUNYI KEBISINGAN DILINGKUNGAN KERJA Bunyi adalah rangsangan yang diterima oleh telinga karena getaran melalui media elastis. Bunyi ditentukan oleh frekwensitas. Frekwensitas bunyi yang dapat diterima oleh telinga manusia adalah 20 – 20.000 hertz (hz) dan untuk komunikasi antara 250-3000 hz. Kecepatan bunyi adalah 340 m/detik dengan panjang gelombang 340 m/frekwensi. Untuk mempermudah pengukuran digunakan “decibel” (dB), yaitu suatu perbandingan logaritma antara tekanan bunyi tertentu dengan suatu tekanan dasar yang besarnya 0,0002 mikrobar yang sesuai dengan ambang dengar telinga normal pada frekwensi 1000 hz (= 0 dB). Kebisingan merupakan suatu efek suara yang keras yang bersumber dari mesin,benda-benda kerja dan benturan alat-alat kerja. yang dapat menggangu fisik pendengaran (menyakitkan telinga pekerja) dan menggangu komunikasi antar pekerja. Ketulian merupakan efek samping dari adanya kebisingan dan mungkin sangat serius, namun tidak hanya ketulian saja. Efek lain yang merugikan adalah tinnitus (telinga sering terdengar bunyi dengung), terpengaruhnya proses komunikasi, hilangnya sensitivitas untuk mendengar bunyi. Kebisingan berpengaruh terhadap organ kesehatan sensitive seseorang mulai dari gangguan ringan berupa gangguan konsentrasi kerja sampai kepada tahap serius berupa kehilangan pendengaran yang tetap (tuli) baik tuli berupa bantaran (konduktif) maupun tuli karena saraf (perspektif) Penurunan daya dengar tergantung dari lamanya pemajanan dan tingkat kebisingan. Organ yang sensitive ini dinamakan sebagai sel berambut (Cillia), yaitu sel saraf yang kecil di telinga bagian dalam yang merubah energi suara ke dalam signal energi elektris yang disalurkan ke otak. Beberapa contoh intensitas kebisingan antara lain lihat (tabel 1)
![]() Tabel1 Tuli permanent dimulai pada frekwensi sekitar 400 hz bila bekerja terus menerus ditempat bising. Hal ini kemudia menghebat dan meluas pada fdrekwensi percakapan. Di Indonesia, nilai ambang batas (NAB) adalah 85 dB (A) secara terus menerus. Contoh Intensitas dan jam Kerja yang diperkenankan.lihat (tabel 2)
![]() Tabel2 Bila dilihat dari seriusnya bahaya kebisingan, maka perlu diperhatikan intensitas suara baik dilingkungan kerja maupun berbicara secara umum, sehingga kemungkinan penurunan kemampuan pendengaran akan berkurang. Untuk pengendalian kebisingan, dapat dilakukan beberapa cara antara lain :
Sumber-sumber kebisingan yang impulsive dan dapat menyebabkan rusaknya alat pendengar harus dihindari. Selain itu perlu dibuat rambu-rambu peringatan untuk wilayah pada tingkat kebisingan tertentu. Untuk mengurangi kebisingan harus menggunakan alat yaitu Ear Muff dan Ear Plug.syarat untuk penggunaan nya adalah sebagai berikut:
![]() ![]() Berikut ini adalah cara untuk merawat Ear Plug dan Ear Muff yang baik:
"Lindungilah pendengaran anda dengan menggunakan alat pelindung telinga" Sumber: - TLV Book 2003, ACGIH
Jefri Chandra [Others HSE Article]
| ||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||